Cerita Tragis di Belik Amplas, Jatiragas, Pagendholan

Sebuah cerita tragis yang terjadi di Belik Amplas, Jatiragas, Pagendholan, Onje.

Mistis

Kita sadarai bersama bahwa di tempat manapun, pasti ada cerita unik, yang bersifat mistis, gaib, hal yang tidak dapat dilihat dan dijangkau oleh akal manusia biasa, bahkan kadang berakhir tragis.

Pengalaman seseorang dalam hal ini, belum tentu menjadi pengalaman untuk orang lain.

Sebuah cerita mistis, apalagi tragis, cenderung akan diceritakan dari mulut ke mulut, akhirnya menjadi sebuah cerita yang seakan-akan pernah dialami oleh banyak orang.

Cerita unik ini akan berimbas menjadi pedoman perilaku, norma yang tidak tertulis, untuk masyarakat setempat.

Bahkan untuk mereka yang kebetulan harus hadir di tempat terjadinya cerita mistis tersebut, harus menyesuaikan, misal, mereka harus sopan, tidak boleh mengumpat, harus permisi dll.

Pundhen Jatiragas

Sebuah tempat di wilayah Desa Onje, ada yang dikenal dengan nama Dukuh Pagendholan. Di dukuh Pagendholan ini, ada sebuah bukit, orang menamakannya sebagai Gunung Tukung.

Di salah satu puncak Gunung Tukung, ada sebuah tempat yang disebut Pundhen Jatiragas

Pundhen Jatiragas, oleh masyarakat sekitar, telah diyakini, menjadi salah satu pusat mistis yang ada di wilayah Gunung Tukung.

Maka menjadi wajar, jika wilayah di sekitar Pundhen Jatiragas muncul cerita-cerita unik yang setiap orang dapat mengetahuinya, bahkan dapat juga, justru merekalah yang mengalaminya.

Belik Amplas

Sekitar 200 meter dari Pundhen Jatiragas ada sebuah tempat, sebut saja bernama Belik Amplas.

Disebut belik karena di situ terdapat lokasi genangan air. Genangan yang tidak pernah kering, selalu menggenang walau di musim kemarau panjang. Tidak tampak jelas dimana sumber keluarnya air, tapi pasti di situ ada airnya, terbukti tanahnya selalu basah, selalu muncul genangan air.

Kata amplas menjadi nama belik, karena di pojok belik, ada sebatang Pohon Amplas yang cukup besar. Pohon dengan daun yang jika diraba terasa kasar, seperti amplas paling lembut.

Sebelum ada banyak toko menjual amplas, daun amplas ini dimanfaatkan untuk mengamplas, menghaluskan permukaan mainan semacam panggal, plinteng, asbak bambu dll.

Orang-orang yang mengenal Belik Amplas akan sangat hati-hati jika lewat di wilayah tersebut.

Jangan lupa, mengucapkan “kulanuwun”, atau semacamnya, setiap masuk ke wilayah Belik Amplas.

Berikut ini adalah salah satu cerita yang pernah terjadi di sekitar Belik Amplas. Belik Amplas sebagai lokasi utama terjadinya peristiwa mistis yang dapat terceritakan.

Pangpung Sengon

Konon dahulu ada tiga orang pencari kayu bakar dan di situ, dia menemukan sebatang cabang pohon yang sudah kering, pangpung, yang cukup besar yang jelas jatuh dari Pohon Sengon.

Dengan senang hati batang kering sebesar paha orang dewasa itu kemudian dipotong-potong menjadi sekitar 6 potong.

Saat itu sekitar pukul 11.00 siang. Matahari terik mengenai tubuhnya sehingga kemudian batang yang paling besar diseretnya untuk berteduh di sekitar bawah Pohon Amplas.

Di bawah Pohon Ampas itu si pencari kayu bakar, ingin segera membelah batang pangpung yang besar tersebut.

Bahwa untuk mempermudah membelah kayu diperlukan sebuah landasan. Kebetulan di situ ada sebuah pokok pohon yang bisa digunakan sebagai tumpuan membelah batang kering. Segera orang tersebut bersiaplah dengan semangat untuk membelah pangpung sengon temuannya.

Dicegah

Ternyata salah satu di antara mereka ada yang kebetulan seperti mendapatkan firasat untuk mencegah. Agar tidak menjadikan pokok pohon itu, di saat itu, untuk tidak digunakan sebagai landasan membelah kayu. Ada entitas yang melarangnya.

“Mandheg, aja deterusna. Kuwe ana Eyangnge, agi lenggah neng kono!” saran dari salah satu temannya, yang rupanya mendapat wangsit khusus itu.

Namun sang pembelah kayu tidak memperdulikan peringatan tersebut. Dengan mantap dan percaya diri dibelahnya batang-batang pohon kering, pangpung tersebut dengan landasan pokok pohon tersebut.

“Kang, kiye angger mengko ana apa-apa, aku wis ngelingna lho ya!”

Dicekik

Cerita selanjutnya. Ternyata pada malam harinya sekitar pukul 21.00, atau pukul 09.00 malam, di rumahnya, si pembelah kayu, lehernya dirasa seperti dicekik dengan sebuah rantai besi.

Sistem pernafasannya pun menjadi sangat terganggu. Dengan nafas tersendat, hal rasa tercekik tersebut diceritakannya kepada keluarganya.

Keluarganya pun segera paham dan panik, hal yang sangat gawat akibat wingitnya tlatah Pundhen Jatiragas.

Keluarganya segera mencari solusi, bagaimana mengurai kutukan penghuni Belik Amplas. Segera dihubungilah para kesepuhan, tetua desa yang sekiranya mampu mengatasi kutukan tersebut.

Tragis

Namun yang terjadi adalah sebuah hal yang memilukan. Tragis!

Kebandelan terhadap larangan untuk tidak menggunakan pokok kayu sebagai landasan membelah kayu, berakhir fatal, si pembelah kayu meninggal dunia pada pagi harinya.

Para sesepuh yang ingin menolong si pembelah kayu menundukkan kepalanya. Kewingitan Tlatah Jatiragas kembali terbukti.

Ngunduh wohing pakarti, memetik hasil perbuatan sendiri, bandel. Menantang wewaler yang diisyarakatkan kepada masyarakat Pagendholan. Wewaler tak tertulis ini menjadi semakin nyata, dapat berakibat memilukan, berakhir tragis bagi yang menentangnya.

Tutur Cinatur

Demikianlah salah satu cerita dari wingitnya Belik Amplas.

Sesungguhnya wingitnya Pundhen Jatiragas telah menjadi cerita yang tiada habisnya, dengan berbagai versi sebab-akibat, dan semuanya diawali dari perilaku para penghuninya, masyarakat setempat.

Demikian sebuah cerita dalam bingkai  tutur cinatur, tentang tragisnya peristiwa di Belik Amplas.

Cerita ini dipungut dari cerita masyarakat setempat, diceritakan kembali agar yang belum tahu, berkenan untuk menjadi tahu, dengan tanpa harus meyakininya.

.

Semoga bermanfaat

Salam

Toto Endargo

.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *