Sedikit tentang kata “Palakrama” sebuah istilah dalam Bahasa Jawa, pengganti kata “menikah” atau “pernikahan“.
Sadana
Konon dalam kata Palakrama terdapat enam kata. Gabungan dari enam kata itu disebut sadana (sad = enam; ana = ada).
Ada enam hal atau kata yang terkandung dalam kata palakrama, yaitu: Pala, kala, nala, krama, karma, kama.
Pala
Memiliki arti buah atau hasil pembuahan. Ada kata pala gumantung artinya buah yang menggantung contohnya; pare, kecipir, welok, benguk, dan buncis.
Kala
Menjadi bagian dari bahasa Indonesia, artinya saat atau waktu. Ada kata sandekala identik dengan senjakala, artinya waktu senja.
Nala
Dari bahasa Jawa artinya hati. Ada nama Nala Gareng, hati garing, kering. Hati yang miskin kemauan mewah, maka dalam cerita wayang, Gareng cenderung menjadi figur yang baik hati.
Krama
Bermakna peraturan kalau dalam bahasa Jawa namanya unggah-ungguh. Palakrama adalah puncak dari hubungan antara pria dan wanita. Menurut adat Jawa, unggah-ungguh atau peraturan hubungan pria dan wanita sebaiknya diakhiri dengan pernikahan.
Karma
Memiliki arti perbuatan. Antara pria dan wanita melakukan perbuatan berbalas cinta. Saling bersedia untuk membangun rumah tangga, mengarungi suka dan duka hidup berdua.
Kama
Adalah bahasa Jawa untuk istilah air mani, wujud dari keluarnya rasa. Kama menjadi sarana adanya keturunan.
Jadi Palakrama atau pernikahan adalah buah di saat hati mematuhi puncak peraturan hal perbuatan hubungan antara pria dan wanita yang pada akhirnya akan berbuah adanya keturunan.
Putra
Adalah buah dari pernikahan (palakrama). Putra dari kata puteraning rah (puteran = siklus; rah = darah); puteraning trah (trah = generasi). Jika dibaca sebagai putro, artinya menjadi puteraning roh (roh = nyawa).
Anak adalah siklus keberadaan keturunan secara biologis. Belum tentu menjadi keturunan secara psikologis, oleh sebab itu ada istilah anak durhaka atau justru sebaliknya orang tuanya yang durhaka..
Palakrama
Secara singkat kata Palakrama sering dimaknai sebagai: Buah (pala) dari unggah-ungguh (krama) perbuatan (karma) keluarnya rasa (kama), atau buah dari perasaan yang ada pada ayah dan ibu, sebagai suami istri, yang menjadikan lahirnya anak sebagai penyambung keturunan.
Judul Lakon
Pertunjukan wayang sering menggunakan kata palakrama (rabi) untuk menjadi judul pementasan.
Misalnya Gatotkaca Palakrama, Arjuna Palakrama, Bima Rabi, inti ceritanya tentang perjalanan sang tokoh sampai ke gerbang pernikahan.
Demikianlah sedikit pengetahuan yang dapat tersampaikan, hal kata “Palakrama“.
Semoga pengetahuan ini bermanfaat, dan untuk yang belum tahu, semoga berkenan juga untuk menjadi tahu.
Salam
Toto Endargo
.